Setelah Jokowi-JK Lengser, PTDI Akan Buat Jet Tempur

Setelah Jokowi-JK Lengser, PTDI Akan Buat Jet Tempur
Sujanews.com —  PT Dirgantara Indonesia ditargetkan tak hanya sekedar merakit pesawat, tapi juga memproduksi jet tempur dalam sepuluh tahun ke depan, yang berarti Jokowi-JK sudah lengser dari kursi kekuasaan. Target itu akan berupaya diwujudkan melalui rangkaian transfer teknologi.

PTDI misalnya saat ini menjalin kerja sama pembuatan pesawat tempur generasi 4,5 jenis KFX/IFX dengan Korean Aerospace Industries (KAI).

Sebagai negara besar, tegas Ryamizard, kemampuan kedirgantaraan Indonesia tidak selaiknya terbatas pada perakitan

“Indonesia ke depannya akan semakin besar, tapi (sampai sekarang) baru bisa merakit. Ke depan tidak akan rakit, tapi buat sendiri. Kapal selam, pesawat tempur,” ujar Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu usai penandatanganan perjanjian kerja sama strategis PTDI-KAI di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (4/12). Penandatanganan perjanjian pembuatan pesawat tempur dilakukan Presiden Eksekutif KAI Ha Sung Young dan Direktur Utama PTDI Budi Santoso. Hadir pula Duta Besar Korea Selatan untuk RI Cho Tai Young.

Setelah penandatanganan perjanjian ini, sekitar 200 insinyur Indonesia akan berangkat ke Korea Selatan terkait perancangan desain pesawat.

“Desainnya dibuat di sana. Kami khawatir kalau desainnya dibuat di (dua tempat), Korsel dan Indonesia. Akhirnya kami kirim saja orang kami ke sana,” ujar Budi.

Insinyur Indonesia akan ikut mendesain seluruh komponen pesawat.

Setelah pembuatan desain selesai, proses berikutnya adalah pembuatan prototipe. Untuk perancangan prototipe kelima akan dikerjakan di Indonesia.

Kerja sama antara PTDI dan KAI terkait pesawat KFX/IFX merupakan program jangka panjang. Hingga tahun 2018, Budi memperkirakan proses baru akan mencapai penyelesaian prototipe.

“Kami berharap pesawat ini bisa dioperasionalkan tahun 2024 atau 2025. Ini program sepuluh tahun,” kata Budi.

KAI dan PTDI juga telah menandatangani kesepakatan pembiayaan program KFX/IFX pada 22 November tahun lalu, dengan pembagian biaya 20 persen dari Indonesia dan 80 persen dari KAI.   [Sujanews.com]





Sumber:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel