Ads Top

Menakar Derajat Manusia Muslim dengan AL Qur’an

Menakar Derajat Manusia Muslim dengan AL Qur’an

Sujanews.com —   Dalam agama islam terdapat beberapa amal ibadah yang digunakan untuk menakar derajat manusia, baik di dunia mapun di akhirat. Sebut saja contohnya adalah masalah ilmu dan iman. Allah berfirman dalam surat al-mujadalah ayat 11 bahwa Ia mengangkat orang yang beriman dan berilmu ke dalam beberapa derajat. Redaksi ayatnya adalah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

‘Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu ke dalam beberapa derajat’

Namun demikian, masih ada beberapa amal ibadah yang dapat dipergunakan untuk memotifasi diri kita untuk lebih meningkatkan ibadah guna mencapai derajat yang lebih baik. Salah satunya adalah menggunakan al-Qur’an, yang tidak lain merupakan sumber hukum dan pegangan paling utama bagi umat muslim di seluruh dunia.

Rasullah SAW bersabda di dalam hadisnya:

 إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

‘Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya’

Apabila kita telusuri lebih jauh untuk mendapatkan gambaran yang lengkap tentang hadis ini, maka dapat kita lihat dalam Sohih Muslim dan Sunan Ibn Majah yang redaksi lengkapnya adalah:

وحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ، أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ، لَقِيَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ، وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ، فَقَالَ: مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي، فَقَالَ: ابْنَ أَبْزَى، قَالَ: وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى؟ قَالَ: مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا، قَالَ: فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى؟ قَالَ: إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ، قَالَ عُمَرُ: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ: «إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ»

‘diriwayatkan oleh imam Muslim dari Zuhayr ibn Harb dari Ya’qub ibn Ibrahim dari bapaknya dari Ibn Syihab dari ‘Amir ibn Wathilah bahwa Na’fi’ ibn ‘Abdil Harith bertemu ‘Umar di daerah ‘Usfan, adapun Nafi’ telah dipilih ‘Umar untuk memimpin kota Makah. ‘Umarpun berkata kepadanya: siapa yang engkau beri tugas untuk menggantikanmu?, maka Nafi’ berkata: Ibn Abza, ‘Umar berkata: siapa itu Ibn Abza, Nafi’ berkata: dia adalah seorang maula (hamba yang telah dimerdekakan) dari maula kami, ‘Umar berkata: engkau perintahkan seorang maula sebagai penggantimu untuk memimpin mereka?, Nafi’ kemudian menjawab: sesungguhnya ia adalah seorang yang pintar al-Qur’an dan menguasai ilmu faraidh, kemudian ‘Umar berkata: adapun sesungguhnya Nabi kalian pernah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya’.

Dalam hadis ini dikisahkan bahwa ada seorang kepala daerah (zaman sekarang setingkat kepala daerah) yang bepergian ke luar kota dan kemudian bertemu dengan khalifah Umar bin Khattab di daerah ‘Usfan. Umar kemudian bertanya kepada gubernur tersebut tentang siapa yang menggantikannya selama ia bepergian ke luar kota. Gubernur kemudian menjawab bahwa yang menggantikannya adalah seorang maula dari kalangan mereka. Umar kemudian kaget dan meminta alasan kenapa ia dapat mempercayai seorang maula yang merupukan bekas budak untuk memimpin umat di daerahnya. Maka  ia  lantas memberikan alasan bahwa sang maula memang layak untuk memimpin masyarakat karena ia adalah seorang yang pintar tentang al-Qur’an dan mengerti ilmu faraidh. Umar kemudian menyetujui keputusan gubernur tersebut dan kemudian mengutip perkataan Rasulullah yang intinya bahwa manusia dapat diangkat derajatnya dengan al-Qur’an, namun jaga dapat diturunkan derajatnya dengan al-Qur’an.

Dari cerita hadis ini jelaslah bahwa sang gubernur menakar kredibilitas dan kemampuan seorang maula hanya dengan melihat bahwa ia  merupakan seorang yang pintar tentang al-Qur’an. Umar-pun juga tidak menyangkal keputusan tersebut dan malah menyetujui dengan mengutip sebuah perkataan Rasulullah.

Pendapat ke dua orang di atas tentu tidak terlepas dari pendidikan Rasulullah kepada mereka. Hal ini terjadi karena masa hidup mereka yang lebih dekat dengan masa hidup Rasulullah, sehingga keputusan-keputusan mereka tentu merupakan kesimpulan dari perkataan, perbuatan dan persetujuan Rasul. Dimana lebih spesifik lagi bahwa keputusan pengangkatan hamba dalam cerita ini berdasarkan perkataan Rasulullah atau yang disebut dengan hadis Qowly.

Menurut penulusuran penulis, dari sejarah kehidupan Rasulullah tidak hanya terlahir hadis Qowly yang menjelaskan tentang pengangkatan derajat orang yang ‘bersinggungan’ dengan al-Qur’an, tetapi terlahir pula sebuah hadis fi’li (hadis perbuatan) Rasulullah yang mengisahkan tentang pengangkatan derajat orang yang hafal al-Qur’an. Redaksi hadis tersebut penulis kutip dari Sohih Bukhari:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ يَقُولُ: «أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ» ، فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ، وَقَالَ: «أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاَءِ يَوْمَ القِيَامَةِ» ، وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ

‘Imam Bukhari menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Syihab dari ‘Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhua berkata,: “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah menggabungkan dalam satu kubur dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dan dalam satu kain, lalu bersabda: “Siapakah diantara mereka yang lebih banyak mempunyai hafalan Al Qur’an”. Bila Beliau telah diberi tahu kepada salah satu diantara keduanya, maka Beliau mendahulukannya didalam lahad lalu bersabda: “Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari qiyamat”. Maka Beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka, tidak dimandikan dan juga tidak dishalatkan”.

Dari penjelasan hadis ini menjadi jelas bahwa orang yang memiliki hafalan al-Qur’an mendapatkan tasyrif al-nabawiy atau penghormatan dari Nabi Muhammad SAW dengan cara didahulukannya jasad orang yang paling banyak hafalan al-Qur’an-nya  daripada yang lain. Sehingga hal ini menguatkan perkataan Rasulullah tentang diangkatnya derajat beberapa kaum dengan al-Qur’an yang sebelumnya telah kita kaji.

Penghormatan dari Rasulullah tersebut terjadi kala waktu di dunia, adapun penghormatan di akhirat, maka sudah tidak bisa kita kira lagi kemuliaan yang nanti akan didapat. Cukuplah bagi kita sebuah hadis yang mengatakan bahwa ‘orang yang hafal al-Qur’an adalah keluarga Allah SWT’ menjadi pegangan untuk memotifasi kita guna lebih meningkatkan kecintaan kita pada al-Qur’an.

Pada akhirnya penulis ingin mengingatkan bahwa yang dimaksud orang-orang yang diangkat dengan derajatnya adalah orang yang hafal dan kemudian mengamalkannya. Jadi tidak cukup hanya  menghafalnya saja, tetapi dibutuhkan ketetepan hati untuk selalu mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Wallohu a’lam………..  [Sujanews.com]


FOLLOW

    


loading...



Powered by Blogger.