Ads Top

Kejahatan Tentara Myanmar: Bayi dan Anak-Anak Rohingya “Disembelih”

Kejahatan Tentara Myanmar: Bayi dan Anak-Anak Rohingya “Disembelih”

Sujanews.com —  Beberapa laporan  PBB melaporkan bahwa telah terjadi pembantaian terhadap anak-anak dan bayi saat operasi militer terhadap Muslim Rohingya di Myanmar.

Bayi berumur 8 bulan, balita berusia 5 tahun dan seorang anak berumur 6 tahun ditikam hingga mati di rumah masing-masing selama ‘operasi pembersihan di wilayah perbatasan Myanmar dan Bangladesh’yang dilakukan oleh Dinas Keamanan Myanmar, yang juga dilaporkan telah menewaskan ratusan orang sejak 9 Oktober 2016, di daerah mayoritas Rohingya, Rakhine.

Kantor Hak Asasi Manusia milik PBB melaporkan kejadian ini sebagai sebuah peristiwa yang memuakkan.

Laporan  tersebut dirilis berdasarkan wawancara dengan lebih dari 200 pengungsi Rohingya yang memasuki Bangladesh setelah melarikan diri dari kekerasan yang mereka hadapi di Rakhine.

Dalam laporan tersebut, seorang ibu menceritakan bagaimana balitanya mencoba melindunginya ketika hendak diperkosa, saat seorang pria membunuhnya dengan cara mengeluarkan pisau panjang dan menggorok leher balita tersebut.

Sedangan dalam kasus lain, seorang bayi berumur 8 bulan dilaporkan dibunuh sementara ibunya diperkosa oleng 5 orang petugas keamanan.

Selain itu, seorang anak perempuan berumur 14 tahun menceritakan bagaimana ibunya diperkosa oleh tentara kemudian dipukuli hingga mati dan dua saudara perempuannya, yang berumur 8 dan 10 tahun, ditikam.

Pemerintah Myanmar telah berulang kali membantah tuduhan penganiayaan terhadap minoritas Rohingya, menyebutnya sebagai bentuk “propaganda” semata.

Bahkan mengatakan bahwa pemukulan oleh aparat polisi adalah sesuatu yang biasa dilakukan di banyak negara.

Selama tindakan keras di Rakhine, pasukan bersenjata Myanmar melakukan penangkapan terhadap pria-pria Rohingya dan dibawa pergi dengan beberapa kendaraan, dengan sebelumnya menyisir rumah rumah untuk melakukan pemerkosaan -secara berkelompok atau pelecehan seksual terhadap wanita-wanita, dan tidak jarang membunuh anak-anak yang menangis atau berusaha melindungi ibunya.

Pada kasus yang lain, diceritakan oleh beberapa pengungsi pada wawancara terpisah lainnya, pasukan militer di desa Rakhine mengunci seluruh anggot keluarga, termasuk orang tua dan orang-orang cacat, didalam satu rumah, kemudian membakarnya. Membunuh mereka semua.

Banyak saksi mata dan korban juga menceritakan bagaimana mereka dicaci-maki saat dipukuli atau diperkosa. Di antara kalimat caci-maki tersebut seperti “Kamu adalah orang Bangladhes dan kamu harus kembali!” atau “Memangnya Allah bisa melakukan apa untukmu? Lihatlah apa yang bisa kami lakukan padamu!”

Serangan lain yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya termasuk pemukulan dan penculikan.

Mayoritas nara sumber wawancar tersebut mengatakan mereka menyaksikan pembunuah, dan hampir setengahnya dilaporkan kehilangan anggota keluarga yang dibunuh juga diculik.

Lebih dari setengah dari 101 wanita yang diwawancara menyebutkan bahwa mereka adalah korban pemerkosaan dan yang lainnya merupakan tindak pelecehan seksual.

Dikutip wartawan The Independent, Linnea Arvidsson, satu dari empat pekerja PBB yang mewawancarai pengungsi Rohingya di Bangadesh dan membuat laporan tersebut mengatakan bahwa dia tidak pernah menemukan situasi yang lebih mengagetkan seperti ini.

“Ini mengejutkan. Saya tidak pernah mengalami situasi seperti ini, di mana anda melakukan 204 wawancara dan setiap orang yang berbicara tersebut mengalami trauma, apakah rumah mereka dibakar, mereka telah diperkosa atau kerabatnya dibunuh atau diculik, “kata Arvidsson.

“Dalam banyak kasus kami adalah orang terdekat mereka, selain keluarga mereka, tempat orang-orang ini bercerita. Mereka lelah. Perempuan dan bahkan laki-laki dewasa menangis.”

“Para wanita menangis ketika mereka berbicara tentang bagaimana mereka diperkosa, atau melihat anak-anak mereka dibunuh. Pria menangis ketika mereka bercerita bagaimana rumah mereka telah dibakar, dan kekhawatiran mereka bagaimana akan menghidupi keluarganya sekarang.”

“Sangat jarang ditemukan tindak kekerasaan dengan tingkat pemerataan yang tinggi seperti ini. Kami telah mewawancarai 204 orang dari total 88.000 orang yang melarikan diri, sehingga, sangat menakutkan membayangkan berapa sebenarnya total korbannya.”

Membabi-buta dan Sistematis

Penyerangan terhadap Rohingya di Rakhine dimulai Oktober lalu saat 9 orang polisi dibunuh saat penyerangan di perbatasan Bangladesh, dan pihak keamanan melancarkan tindak kekerasan membabi buta terhadap populasi Rohingya sebagai upaya mencari pelaku dibalik peristiwa tersebut.

Kekerasan tersebut mengikuti pola lama berupa pelanggaran dan penyiksaan, sebuah diskriminasi sistematis dan merupakan kebijakan rasis terhadap etnis Rohingya yang telah lama menempati wilayah utara Rakhine.

Arvidsson menambahkan bahwa tindak kekerasan terhadap pria, wanita, dan anak-anak ini merupakan operasi sitematis, bukan sekedar upaya menangkap pemberontak yang bertanggungjawab terhadap kejadian pembunuhan polisi Oktober sillam. Dugaan diskriminasi etnis juga merupakan latar belakang pembantaian bayi-bayi tersebut.

“Alasan bahwa operasi tersebut merupakan upaya pencarian pemberontak yang membunuh polisi tidaklah masuk akal. Membunuh bayi, balita, dan anak-anak serta memperkosa wanita saat mencari pemberontak tidaklah masuk akal,” ujar kepada The Independent, Jumat (03/02/2017).

“Dari testimoni yang kami kumpulkan, kami simpulkan ada dua penyebab dari penganiayaan ini : hukuman disertai penghinaan akibat peristiwa penyerangan terhadap polisi, dan unsur perbedaan etnis dan rasisme -terhadap penduduk minoritas-

“Tidaklah seorang bayi berumur 8 bulan dibantai karena peristiwa penyerangan kepolisian, melainkan tidak menganggap bayi tersebut sebagai manusia.”

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Zeid Ra’ad al-Hussein, menggambarkan kekejaman terhadap anak-anak Rohingya sebagai “tak tertahankan”, mengatakan tuduhan penikaman bayi ini sebagai hal yang menjadi perhatian masyarakat internasional.

“Kekejaman terhadap anak-anak Rohingya ini tak tertahankan lagi – kebencian apa yang bisa membuat seorang pria menusuk bayi menangis  yang mencari susu ibunya,” katanya.

“Dan bagi sang ibu untuk menyaksikan pembunuhan tersebut sementara dia sedang diperkosan beramai-ramai oleh pasukan keamanan yang seharusnya melindunginya, ‘operasi pembersihan’ apa ini? Apa tujuan dari keamanan nasional yang ingin dicapai?”

“Saya menyerukan kepada masyarakat internasional, dengan segala kekuatannya, untuk bergabung dengan saya, mendesak kepemimpinan di Myanmar untuk mengakhiri operasi militer ini. Skala kekerasan semacam ini seharusnya menimbulkan reaksi penolakan yang kuat dari masyarakat internasional.”

Al-Hussein juga mendesak pihak berwenang di Myanmar untuk segera mengakhiri tindak pelanggaran HAM berat terhadap rakyatnya ini.

“Pemerintah Myanmar harus segera menghentikan pelanggaran HAM serius terhadap rakyatnya ini, daripada terus menyangkal bahwa hal ini telah terjadi. Dan menerima tanggung jawab untuk memastikan bahwa korban memiliki akses terhadap keadilan, pemulihan dan keamanan,” ujarnya.   [Sujanews.com]


FOLLOW

    


loading...



Powered by Blogger.