SURAT TERBUKA Untuk Ibu Megawati


Sujanews.com —  Assalamu 'ala manittaba'al huda..

Keselamatan untuk otang yang mengikuti petunjuk Allah..

Saya tergelitik juga untuk menulis surat terbuka ini kepada anda bu Mega setelah membaca transkrip pidato politik anda pada HUT ke 44 PDI Perjuangan di JCC Jakarta, Selasa 10/01/2017 kemarin.

Saya yakin 100% isi pidato tsb mencerminkan isi hati dan jalan fikiran anda, kendatipun orang lain yang menuliskannya. Ungkapan "..... kalau mau jadi Islam, jangan jadi orang Arab dst" adalah keliru besar. Ungkapan tesebut bisa saja berlaku pada agama lain yg anda sebutkan, akan tetapi tidak berlaku pada Islam.

Harus anda ketahui 5 hal penting berikut:

1. Agama Islam kendati pertama kali diturunkan Allah di negeri Arab, maka setelah Islam datang, bangsa Arab harus mengikuti ajaran Islam yg bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah secara utuh dan orisinal. Jika tidak, orang Arab tidak dinamakan Muslim dan mereka tetap kafir atau musyrik seperti yg dialami oleh Abu Jahal dan Abu Lahab yang nota bene suku Quraisy Arab termulia saat itu dan sebagi paman Nabi sendiri.

2. Islam atau tidaknya seseorang bukan ditentukan oleh di mana tempat lahirnya, siapa ortunya, melainkan pengakuan dan ketundukannya pada semua ajaran Islam kendati ia lahir, dibesarkan dan mati di negeri China atau lainnya di atas bumi ciptaan Allah ini. Karena agama Islam itu Allah turunkan untuk semua manusia sampai dunia ini kiamat/Allah hancurkan.

3. Ajaran Islam bukan untuk dijadikan "objek" oleh manusia, siapun dia dan dimanapun dia hidup, sehingga bisa menentukan faham dan corak keislaman yg dia inginkan, akan tetapi Islam sebagai "subjek" yang akan menentukan corak (nila ideologi, ibadah, akhlak, muamalah, kepribadian dan politik) seseorang. Sebab itu, Islam itu sebagai neraca dan timbangan, bukan sebagai bahan yg ditimbang oleh manusia manapun dengan timbangan otaknya atau tradisi yg berkembang. Islam itu yang menstandarisasi manusia, bukan sebaliknya.

4. Tentang sorotan anda terkait "ideologi tertutup" dst yg mungkin anda arahkan kepada tokoh-tokoh Muslim kebangkitan umat Islam jilid baru sekarang yg puncaknya pada tanggal 2 bulan 12 (212) tahun lalu ditandai dengan jutaan kaum Muslimin tumpah ruah di Monas dan sekitarnya yg datang dari seantero negeri menuntut dipenjarakannya Ahok adalah keliru besar.

Anda mencoba membenturkan ulama, tokoh-tokoh kebangkitan Islam dan kaum Muslimin hari ini dg Pancasila, NKRI dsb sehingga penguasa yang sedang berkuasa dari PDIP dan partai sekular lainnya mendapatkan legitimasi utk membrangus ulama dan tokoh-tokoh Islam tsb sebagaimana yg dilakukan penguasa Orde Baru yg anda sendiri merasakan pahit getirnya.

Pikiran dan ungkapan anda tsb sangat sudah tidak relevan dan sekaligus paradoks dengan yang anda ucapkan. Masyarakat

sudah tahu mana yang maslahat utuk agama dan negeri dan mana yang mudarat.

Jika fikiran anda dan partai anda itu diyakini benar oleh kebanyakan masyarakt Indonesia dan ada maslahat buat agama dan dunia mereka di era Reformasi ini pasti partai anda sudah menjadi partai raksasa yang bisa meraup suara setiap kali Pemilu 50% lebih misalnya. Faktanya pernah sekali saja mendapatkan 20% suara dan setelah itu merosot terus dg tajam.

5. Terkait dengan ungkapan anda yang sangat sinis pada ulama dan tokoh-tokoh kebangkitan umat Islam saat ini yang anda tuduh menganut ideologi tertutup itu dan sadisnya lagi tidak segan-segan anda tuduh mereka sebagai para peramal masa depan dan bahkan anda sebutkan pula termasuk meramalkan kehidupan setelah fana (akhirat) yang nota bene mereka sendiri belum pernah melihatnya dapat saya pahami bahwa Anda Tidak Beriman Pada Akhirat. Kalau saya salah mohon dikoreksi.

Ungkapan anda tsb mirip dengan kaum yang mempertuhankan hawa nafsu sehingga Allah sesatkan mereka, tutup pendengaran, hati dan mata mereka. Akibatnya mereka tidak meyakini kecuali hanya kehidupan dunia.. "Jika dibacakan pada mereka ayat-ayat Allah, khususnya ttg akhirat, mereka selalu berdalih : Hidupkan dulu nenek moyang kami yang sudah mati itu jika pemikiran akhirat itu benar. Padahal Allah yang menghidupkan mereka, kemudian mematikan mereka, kemudian mengumpulkan mereka sampai hari Kiamat yang tidak ada keraguan sedikitpun kejadiannya. Namun mayoritas manusia tidak mengetahuinya dengan ilmu." (Al-Jatsiyah : 23 - 26).

Kesimpulannya, Ibu Megawati sekarang sedang galau tingkat tinggi sehingga perpidato dg sembrono, tidak faktual dan kurang cerdas. Ibu Megawati lupa pidatonya itu dilihat, ditonton dan dibaca bukan hanya oleh pengikutnya yang tergabung dalam PDIP yang tidak lebih dari 15% suara Pemilu, akan tetapi diperhatikan pula oleh yang 85% lainnya.

Adapun penyebab kegalauannya jelas disebabkan jagoan partainya saudara Ahok Gubernur DKI non aktif sedang terjerat kasus hukum penghinaan agama. Kalau sampai hakim nanti memutuskan Ahok bersalah maka tamatlah riwayat cita-cita Ibu Mega untuk menjadikan Ahok Gubernur DKI untuk periode ke 2.

Faktor kegalauan lain ialah situasi dan kondisi Indonesia semakin kacau balau dalam semua lini kehidupan setelah dipimpin lagi-lagi oleh jagoan PDIP yang sudah barang tentu jagoan beliau juga yakni Jokowi dalam dua tahun belakangan ini.

Benarlah apa yang dikatakan JK dulu diawal-awal Jokowi ingin mencalonkan diri jadi Presiden RI: Kalau Jokowi jadi Presiden hancur negara ini.

Ibu mega pasti lebih was-was lagi jika jagoannya ini tergusur juga dari kursi kepresidenan tentulah musibah besar bagi Ibu Megawati dan juga bisa-bisa PDIP mengalami kiamat kubro.

Yang jelas, masyarakat semakin tahu dengan jelas visi, misi, ideologi dan seni kepemimpinan yang dijalankan Ibu Megawati dan partainya PDIP seperti yang diungkapkan sendiri:

"Sungguh: kita adalah bangsa berkepribadian Banteng". Naudzubillahi min dzalik.

Demikian apa yg menjadi sorotan saya terkait pidato Ibu Megawati di atas. Semoga menjadi maklum. Mohon maaf jika tidak berkenan...

Assalamu 'ala manitta'al huda...

Ust. Fathuddin Ja'far
WNI ASLI/PRIBUMI   [Sujanews.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel