Jusuf Kalla: Dunia Susah Jika Donald Trump Menang

Jusuf Kalla: Dunia Susah Jika Donald Trump Menang

Sujanews.com — Pemilihan Presiden AS resmi dimulai, kemarin, Dimulainya pemilu AS ke-58 ini ditandai dengan dibukanya tempat pemungutan suara (TPS) di beberapa negara bagian di AS.

 Tempat pemungutan suara rata-rata dibuka pada Selasa (8/11) pukul 06.00 waktu setempat atau sekitar pukul 18.00 Waktu Indonesia Barat. Di antaranya di Vermont, New Hampshire, New York, Virginia, Connecticut, Maine and New Jersey.

Di North Carolina, Ohio and West Virginia, TPS baru dibuka pada pukul 06.30 pagi waktu setempat. Ada juga satu kota yang terlebih dulu menggelar pemungutan suara pada Senin (7/11) tengah malam waktu AS, yakni Dixville Notch, kota kecil di sebelah utara New Hampshire, yang dekat dengan perbatasan Kanada. Ada 8 warga kota ini yang menggunakan hak suaranya.

Saat TPS dibuka, warga AS yang mengenakan pakaian hangat sudah terlihat mengantre di tepi jalan atau di halaman TPS untuk memberikan suara mereka. Cuaca dingin tak menghalangi antusiasme mereka untuk memilih pemimpin baru.

TPS ini akan dibuka hingga pukul 19.00 waktu setempat, atau pukul 07.00 pagi pada tanggal 9 November Waktu Indonesia Barat. Antrean panjang terlihat di Georgia, Florida, dan New York.

Di New York dan Manhattan, pemilih bahkan memadati TPS setempat sejak dini hari. Sedang di Florida, sekitar 6,4 juta warga sudah memilih di pagi waktu setempat itu, nyaris setengah dari total 13 juta warga di Florida.

Warga Muslim AS juga berbondong-bondong mendatangi TPS di beberapa kota di sejumlah negara bagian. Salah satu kota yang terpantau adalah di kota Franklin County, di Ohio.

Beberapa wanita berhijab datang ke TPS. Satu persatu dari mereka akhirnya masuk ke bilik suara untuk memberikan suara mereka.

Warga Muslim di AS sendiri merupakan warga minoritas, diperkirakan berjumlah sekitar tiga juta orang, atau satu persen dari total populasi masyarakat AS. Mayoritas dari mereka adalah keturunan negara Timur Tengah atau Afrika.

Hillary Clinton memilih di dekat kediamannya di Chappaqua, New York. Didampingi suaminya, eks presiden AS Bill Clinton, Hillary menggunakan hak suara di Grafflin Elementary School, Chappaqua, yang dekat dengan kediamannya. Keduanya menebar senyum begitu tiba di lokasi.

Sekitar 150 pendukung Hillary muncul di luar tempat pemungutan suara untuk memberikan semangat. "Madam President," demikian teriak para pendukung Hillary yang disambut dengan senyum. "Saya sangat bahagia, saya sungguh luar biasa bahagia," ucap Hillary usai memberikan hak pilihnya.

Kepada wartawan, Hillary yang mengenakan blazer coklat dan celana krem menyebut, akan melakukan yang terbaik jika menang. Dia sadar, besarnya tanggung jawab yang akan dipikulnya. "Saya akan melakukan yang terbaik jika saya cukup beruntung untuk menang hari ini," ujarnya, rendah hati.

Sementara, rival Hillary, Donald Trump menggunakan hak suaranya di tempat pemungutan suara yang ada di kawasan Manhattan.

Di Jakarta, Wapres JK menyebut, celaka jika Trump yang memenangkan Pilpres. "Kalau Trump, wah kelihatannya susah itu. Dunia akan jadi susah. Jadi, tentu orang mengharapkan banyak kepada Hillary," ujar JK usai acara ASEAN G28 Infrastructure Investment Forum 2016 di Hotel Shangri-La, kemarin.

Dia berharap, siapapun pemenangnya pilpres AS dapat membawa dampak positif bagi negara global.

"Indonesia dan dunia ingin suatu yang damai dan ekonomi berjalan. Hillary atau Trump, walaupun kelihatan dari pidatonya, Trump itu lebih protektif. Nasionalnya sendiri-sendiri," tutur JK.

Sekadar info, AS memiliki sistem pilpres yang berbeda dengan Indonesia. Warga AS tak memilih secara langsung presiden mereka, melainkan melalui keterwakilan yang disebut electoral college.

Saat "mencoblos" kemarin, rakyat Amerika memberikan suara ke capres-cawapres yang namanya tercantum di surat suara. Namun suara yang mereka berikan tidak langsung masuk ke pasangan itu, melainkan dikonversi menjadi electoral college.

Electoral college adalah kumpulan individu (disebut elector) yang nantinya akan memiliki kewenangan untuk memilih presiden. Jadi ketika di hari pemungutan suara seorang warga AS memilih capres A, secara teknis sebenarnya dia sedang memilih elector yang akan dia pasrahi untuk memilih A di sidang electoral college.

Pemberian suara oleh warga disebut popular vote, sementara pemberian suara oleh elector disebut electoral vote. Kedua istilah itu kerap membuat bingung mereka yang kurang familiar dengan sistem pilpres di AS.

Masing-masing capres/partai menunjuk elector yang nantinya akan menduduki electoral college yang mereka menangkan di tiap negara bagian. Biasanya orang yang menduduki posisi elector adalah pemimpin partai, orang yang memiliki kedekatan dengan kandidat, atau mereka yang ditunjuk oleh pemerintah negara bagian.

Keberadaan electoral college adalah bentuk kompromi antara pemilihan langsung oleh rakyat dengan pemilihan oleh Kongres (MPR). Karena tugasnya hanya memilih presiden, electoral college bersifat ad hoc dan langsung dibubarkan begitu tugasnya selesai (umurnya hanya satu hari).

Secara nasional, total jumlah electoral college adalah 538. Untuk menjadi presiden, seorang capres harus mengantongi minimal 270 electoral vote (atau dengan kata lain didukung oleh 270 elector di sidang electoral college).(rmol)  Sujanews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel