Ahok Tidak Akan diproses Hukum. Ini Karena ada Kekuatan Besar di Belakangnya

Ahok Tidak Akan diproses Hukum. Ini Karena ada Kekuatan Besar di Belakangnya

Sujanews.com —Direktur Eksekutif Sabang-Merauke Circle, Syahganda Nainggolan menilai Ahok bisa menjadi pemicu benturan budaya (clash of civilization) di Indonesia. Pasalnya, Ahok yang membawa agenda dan misi tertentu itu secara sengaja berhadapan dengan umat Islam.

"Saya berpendapat pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu itu secara sadar disengaja. Bahkan permintaan maaf tidak dilakukan sungguh-sungguh," papar Syahganda saat menjadi pembicara diskusi 'Apa dan Mengapa Pilkada DKI Serasa Pilpres' di RM Pempek Kita, Tebet, Jakarta, Senin (17/10/2016).

Menurut Syahganda, Ahok kini telah menjadi aktor dalam benturan budaya itu. Terbukti, meski telah terjadi demontrasi yang diikuti ribuan umat Islam di Jakarta pada hari Jumat (14/10/2016) dan juga diberbagai daerah, namun Ahok tetap tidak mengaku salah. Bahkan terus melakukan berbagai perlawanan.

"Saya menduga, Ahok tidak akan diproses hukum. Ini karena ada kekuatan besar di belakangnya," papar Syahganda. Jika ini yang terjadi, menurut dia, justru membuat eksalasi kemarahan umat Islam bisa semakin besar. Selanjutnya, prediksi dia, bukan tidak mungkin akan memicu terjadinya benturan antar elemen masyarakat di tanah air.

Syahganda mengatakan pertarungan yang terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini menjadi pertaruhan bagi kekuatan politik pada Pilpres dan Pemilu 2019. Sehingga tidak bisa diabaikan keterkaitannya dengan tarik-menarik kepentingan global terhadap Indonesia. Dia menyebut Ahok mewakili agenda salah satu kepentingan global tersebut.

"Hanya saja yang kurang diperhitungkan kubu Ahok adalah Amerika tidak akan tinggal diam," ujar Syahganda. Menurut analisa Syahganda, Amerika akan mendukung kekuatan golongan Islam. Apalagi, Anies-Sandi mewakili Islam maupun Agus-Silvy, mewakili Islam yang bukan garis keras.

"Anies kan mewakili Islam Amerika. Sedang Agus mewakili Islam Kejawen," papar Syahganda. Menurut dia, kubu Ahok tidak mengira jika kelompok Islam yang menjadi lawannya dalam Pilkada adalah dari golongan yang moderat ini. Syahganda menilai pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu akibat salah memahami lawan-lawannya.

Selain Syahganda, yang tampil sebagai nara sumber dlaam diskusi adalah Habil Marati (politisi PPP) dan Ahmad Dolli Kurnia (politisi Partai Golkar). Guru Besar UI Prof Prijono menjadi penanggap. Sedang Bursah Syarnubi sebagai moderator dan tuan rumah diskusi yang dihadiri puluhan kalangan aktivis itu.(TS/Sujanews.com)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel