Bolehkah Seorang Muslim Mengikuti Festival Holi?

Bolehkah Seorang Muslim Mengikuti Festival Holi?
SujaNEWS.com — Festival Holi  merupakan salah satu perayaan umat hindu di India dan Nepal. Festival ini biasanya dilaksanakan pada musim semi di sana, sekitar akhir bulan Februari sampai pertengan Maret dalam kalender Gregorian.

Dilansir Wikipedia.org, Festival ini juga dikenal sebagai festival warna atau festival berbagi cinta. Holi ada dua hari. Pertama, festival yang dimulai pada Purnima (hari bulan penuh) jatuh di Kalender Bikram Sambat Hindu, bulan Falgun yang jatuh di suatu tempat antara akhir Februari dan pertengahan Maret dalam kalender Gregorian. Festival holi pertama ini dikenal sebagai Holika Dahan atau Chhoti Holi. Sementara itu, fesyival holi hari kedua dikenal sebagai Rangwali Holi, Dhuleti, Dhulandi atau Dhulivandan.

Mitos di balik festival Hindu ini bervariasi tergantung pada wilayah yang ada India. Yang paling populer sebagai atribut ke Hiranyakasipu, raja setan dan anaknya Prahlada. Menurut legenda kuno, tiran yang tidak senang bahwa Prahlada adalah pemuja setia Dewa Wisnu, pelindung seluruh umat manusia. Ketika semua upaya untuk mencegahnya gagal, raja iblis meminta bantuan dari Holika adiknya, yang telah lahir dengan kekuatan untuk menolak panas.

Dewi iblis diundang Prahlada untuk bergabung dengannya di dalam api yang menyala. Namun berkat perlindungan ilahi dari Dewa Wisnu, anak muda lolos tanpa cedera, sedangkan ‘tahan api’ Holika terbakar menjadi abu. Penduduk setempat menandai kemenangan kebaikan atas kejahatan dengan perayaan yang mirip dengan-modern Holi dan tradisi menyenangkan lahir. Malam sebelum Holi, banyak orang Hindu berkumpul dan menyalakan api unggun raksasa untuk membersihkan udara dari roh-roh jahat.

Di negara bagian India utara Uttar Pradesh, festival Holi dilaksanakan untuk merayakan cinta abadi antara bersenang-senang dewa India Krishna dan Radhika tercinta. Sejak pengabdian abadi mereka satu sama lain tidak dapat diamati dalam sehari, warga Mathura, (tempat kelahiran Krishna) merayakan festival selama hampir satu bulan dengan acara yang berbeda pada setiap hari. Puncak perayaan adalah Lathmar (tongkat) Holi, yang diamati beberapa hari sebelum ‘nyata’ Holi.

Perayaan Lathmar Holi terbesar terjadi di Desa Barsana, tempat kelahiran Radhika. Pada hari ini, para wanita desa menggelar pertempuran pura-pura dengan orang-orang dari desa tetangga Nandgaon (di mana Krishna tinggal sampai usia sepuluh) untuk mencegah mereka dari menempatkan bendera di puncak candi Radhika ini.

Para wanita memukul laki-laki dengan tongkat bambu, sedangkan laki-laki berusaha untuk melawan dengan satu-satunya senjata yang mereka miliki yaitu bubuk berwarna! Terlepas dari siapa yang menang, hari berikutnya para wanita Barsana membalas budi dengan menuju ke Nandgaon, kali ini tanpa tongkat mereka. Mereka akan merayakan festival Holi bersama laki-laki.

Dari latar belakang diadakannya festival holi seperti penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa festival holi adalah salah satu bentuk perayaan umat hindu. Karena perayaan holi bersinggungan dengan hadharah akidah agama lain, maka sebagai seorang muslim kita haram untuk mengikutinya, sebab termasuk dalam tasyabuh (mengikuti gaya orang kafir).

Seperti sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kenapa sampai kita dilarang meniru-niru orang kafir secara lahiriyah? Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 154).

Di tempat lain dalam Majmu’ Al Fatawa, beliau berkata, “Jika dalam perkara adat (kebiasaan) saja kita dilarang tasyabbuh dengan mereka, bagaimana lagi dalam perkara yang lebih dari itu?!” (Majmu’ Al Fatawa, 25: 332). Wallahu’alam []

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel